Rasa malu adalah bagian dari iman. Konsep ini sudah diajarkan sejak zaman Rasulullah, tetapi sering kali tidak dikenalkan secara tepat kepada anak di usia sekolah dasar. Padahal, rasa malu yang positif dapat menjadi benteng akhlak dan membimbing anak agar mampu menjaga diri dari perilaku yang tidak pantas. Orang tua dan guru punya peran penting dalam memperkenalkan nilai ini dengan cara yang lembut dan sesuai ajaran Islam.
Mengajarkan Anak Tentang Malu sebagai Bagian dari Iman
Langkah pertama adalah mengenalkan bahwa rasa malu bukan sekadar perasaan tetapi bagian dari iman yang akan menjaga kehormatan diri. Anak perlu memahami bahwa Allah selalu melihat perbuatan hamba-hamba-Nya. Jelaskan dengan bahasa ringan bahwa menjaga perbuatan baik adalah bentuk rasa malu yang terpuji.
Orang tua bisa menggunakan contoh kisah Nabi, cerita keseharian, atau buku cerita Islami agar anak mudah memahami makna malu yang positif. Ketika konsep iman dipahami sejak kecil, anak akan lebih mudah membedakan mana perilaku yang pantas dan mana yang sebaiknya dihindari.
Untuk orang tua yang ingin mencari lingkungan pendidikan yang lebih mendukung pembentukan adab dan akhlak, pilihan sekolah seperti sd it di jogja bisa menjadi referensi yang relevan.
Memberikan Teladan Melalui Sikap Sehari-hari
Anak tidak mempelajari akhlak hanya dari nasihat tetapi dari apa yang mereka lihat setiap hari. Jika orang tua dan guru berbicara dengan sopan, menjaga batasan, serta berperilaku hormat, anak akan menirunya secara alami.
Rasa malu yang positif tumbuh ketika anak melihat orang dewasa menampilkan akhlak baik, seperti menjaga pandangan, tidak berkata kasar, dan menghargai privasi orang lain. Keteladanan jauh lebih kuat daripada perintah.
Sekolah juga memegang peran besar dalam membentuk kebiasaan tersebut. Sekolah Alkhairaat adalah contoh lembaga pendidikan yang mengutamakan nilai adab sehingga anak memperoleh lingkungan belajar yang sehat dan sesuai syariat.
Membiasakan Anak Menjaga Batasan dan Adab Sosial
Dalam Islam, menjaga batasan adalah bagian penting dari rasa malu. Ada beberapa hal sederhana yang bisa dibiasakan kepada anak, seperti mengetuk pintu sebelum masuk, meminta izin ketika meminjam barang, dan menjaga sopan santun saat berbicara.
Ajak anak untuk berlatih:
-
menggunakan bahasa yang lembut
-
memahami kapan harus berbicara dan kapan mendengarkan
-
menjaga sikap saat berada di tempat umum
-
merapikan pakaian agar terlihat sopan
Pembiasaan sederhana seperti ini menumbuhkan karakter kuat tanpa membuat anak merasa dikekang.
Menjelaskan Perbedaan Malu yang Terpuji dan Malu yang Menghambat
Sebagian anak memiliki rasa malu yang berlebihan sehingga menjadi takut mencoba hal baru. Di sinilah orang tua perlu menjelaskan bahwa ada dua jenis rasa malu.
Malu yang positif
-
Menjaga adab
-
Menolak perbuatan buruk
-
Menjaga aurat
-
Menghindari perilaku yang memalukan
Malu yang negatif
-
Malu bertanya meski tidak paham
-
Malu tampil padahal mampu
-
Malu menunjukkan prestasi
-
Malu berpendapat meski benar
Anak perlu tahu bahwa Islam tidak mengajarkan mereka untuk menjadi penakut. Islam mengajarkan keberanian yang beradab, bukan keberanian yang sembarangan.
Menguatkan Perilaku Baik dengan Apresiasi
Ketika anak menunjukkan perilaku malu yang positif, seperti menolak mencontek atau menjaga adab, apresiasi mereka. Pujian sederhana dapat menumbuhkan motivasi internal sehingga mereka ingin mengulang kebiasaan tersebut.
Penting bagi orang tua untuk menghindari kata-kata yang mempermalukan. Tugas orang tua adalah membangun rasa malu yang sehat, bukan rasa malu yang membuat anak tidak percaya diri.
Penutup
Cara menanamkan rasa malu yang positif pada anak menurut Islam bukanlah upaya satu kali tetapi proses yang dilakukan terus menerus. Dimulai dari pendidikan iman, keteladanan, pembiasaan adab, hingga apresiasi yang tepat. Dengan bimbingan yang benar, anak tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak, percaya diri, dan mampu menjaga diri dari perbuatan tercela.
Memilih lingkungan yang mendukung adab juga sangat penting. Anda bisa menjadikan sd it di jogja dan sekolah alkhairaat sebagai referensi pendidikan bagi anak.
